Informasi Seputar Kota Cimahi

Tryout CPNS 2021

Pusat Pembelajaran CPNS Online 2021.

Prediksi Soal Soal CPNS 2021

Contoh contoh soal CPNS yang telah terbukti meluluskan di Kementerian dan Pemerintah Daerah

Siapkah Anda CPNS 2021

Langkah Cepat Menyiapkan Tes CPNS 2021

Kamis, 10 November 2011

Ribuan Buruh Cimahi Long March Tolak UMK 2012

Ribuan buruh Kota Cimahi melakukan long march dari pabriknya masing-masing menuju Kantor Pemkot Cimahi, Jumat (4/11/2011). Mereka akan berunjuk rasa menolak kenaikan upah yang dinilai tidak laik.

Untuk mengumpulkan massa, buruh melakukan sweeping ke pabrik-pabrik yang berada di Jalan Cimindi dan Jalan Leuwi Gajah. Mereka menggedor gerbang pabrik untuk mengajak buruh lainnya untuk ikut serta dalam aksi solidaritas ini.

Sementara itu, sebagian massa saat ini ada yang sudah berkumpul di sekitaran Gerbang Tol Baros menunggu rombongan massa lainnya.

Para buruh berjalan berbaris dengan batas tali sambil membawa spanduk di bagian depan. Sebuah kendaraan bak terbuka yang dijadikan panggung orasi pun berada di depan barisan.

'Tolak Kenaikan Upah Minimum Kota Cimahi yang tidak layak, yang hanya 37.OOO' begitu isi spanduk berukuran 3 meter X 0,5 meter itu.

Dituturkan Rahmat Ganjar Sekjen SPN, aksi ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan atas kenaikan UMK Cimahi yang jauh dari harapan mereka. Ia mengatakan, UMK Cimahi saat ini adalah yang terkecil jika dibandingkan dengan Kabupaten Bandung, Kota Bandung, dan Sumedang.

"Ini aksi kekecewaan kami kecewa pada Pemkot Cimahi yang menetapkan UMK tak sesuai yang kami harapkan," ujar Ganjar saat ditemui di sela aksi di Jalan Amir Mahmud.

Ia mengatakan, pada rapat pleno Dewan Pengupahan 2 November kemarin, telah disetujui UMK Cimahi sebesar Rp 1.209.442 atau naik Rp 37 ribu dari upah sebelumnya yaitu Rp 1.1.172.

"Padahal kami inginnya 100 persen KHL ditambah inflasi, yaitu sekitar Rp 1.251.778. Jumlah itupun didapat setelah inflasi dibagi dua," katanya.

Namun dalam rapat pleno, jumlah tersebut tak disepakati. Pihak pekerja pun walkout dalam rapat pleno terakhir itu. "Karena kami berat menerima itu," tuturnya.

Aksi ini dilakukan oleh ribuan buruh atau pekerja yang tergabung dalam SPN, SPMI dan Kasbi. Tuntutan mereka, Pemkot Cimahi mengkaji ulang putusan penetapan UMK Cimahi.
Share:

Sudah Jatuh, Tertimpa Motor

Seorang pria bernama Maryono (56), gagal "beraksi" melewati papan yang dibuat menjadi jembatan kecil di atas galian drainase seluas 1 x 1,5 meter dengan menggunakan sepeda motor di depan Puskesmas Cimahi Tengah, Jln. Djulaeha Karmita Cimahi, Senin (7/11) pagi. Sebelum menyeberang, Maryono terpelanting ke dalam galian dan yang lebih sial lagi, ia tertimpa motor tunggangannya.

Beruntung meski sudah jatuh tertimpa motor, Maryono tidak mengalami luka serius. Ia hanya mengalami luka memar di kaki kanannya. "Rencananya, saya mau kontrol kesehatan ke puskesmas.

Tapi mungkin karena jembatannya terlalu kecil dan tidak bisa mengendalikan motor, saya terjatuh dan punggung saya sempat tertimpa motor.

Tapi untung tidak apa-apa," kata warga Perumahan Nata Endah itu kepada wartawan di tempat kejadian.

Peristiwa tersebut sempat mengagetkan warga yang ada di sekitar lokasi. Beberapa warga, termasuk pekerja galian drainase pun langsung memberikan bantuan.

Pipa PDAM bocor

Di tempat yang sama, akibat terhantam cangkul penggali gorong-gorong, pipa PDAM Tirta Raharja yang melintasi Jln. Djulaeha Karmita bocor. Akibatnya, air bersih yang sedianya didistribusikan kepada 500 kepala keluarga (KK) di daerah tersebut menyembur dari pipa 3 inci tersebut.

Beberapa saat kemudian, petugas dari PDAM Tirta Raharja tiba. Koordinator Lapangan PDAM Tirta Raharja, Beni David mengatakan, pihaknya mendapatkan laporan dari warga terkait kebocoran tersebut dan langsung memperbaikinya.

Beni mengatakan, bocornya pipa PDAM akibat galian drainase yang merupakan proyek Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pemkot Cimahi tersebut adalah untuk yang kedua kalinya. Sebelumnya, pipa PDAM di dekat Pasar Atas Cimahi pun bocor karena pengerjaan drainase tersebut.

"Untuk pengerjaan drainase ini, tidak ada koordinasi yang dilakukan DPU dengan PDAM Tirta Raharja. Sangat disayangkan memang. Padahal jika ada koordinasi mungkin peristiwa ini tidak perlu terjadi, karena kami bisa informasikan di mana saja pipa PDAM berada," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga DPU Kota Cimahi, Achmad Nuryana meminta maaf jika akibat pekerjaan penggalian drainase di sejumlah tempat masyarakat menjadi tidak nyaman atau bahkan sampai mencelakakan. Terkait bocornya pipa PDAM, Achmad mengaku telah melakukan koordinasi dengan pihak terkait.

"Untuk PDAM, sebelumnya kita sudah melakukan koordinasi, jika pipa PDAM itu terlihat. Namun yang bocor seperti ini mungkin karena letaknya dalam dan kita tidak tahu. Tapi sebelum melakukan pekerjaan ini kami sudah melayangkan surat ke berbagai pihak antara lain PLN, Telkom, dan PDAM. Pihak PDAM pun sudah memakluminya," ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini pihaknya tengah melakukan perbaikan drainase di sekitar 25 titik di wilayah Kota Cimahi.
Share:

DKP Waspadai Pohon Tumbang

Tingginya curah hujan dan intensitas angin kencang belakangan ini membuat Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Cimahi meningkatkan kewaspadaan. Berdasarkan inventarisasi data yang sudah dilakukannya ada 5.775 pohon di sejumlah ruas jalan protokol Kota Cimahi yang rawan tumbang atau setidaknya patah dahannya.

Salah satu bentuk antisipasi yang dilakukan Bidang Pertamanan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Cimahi adalah melakukan pemeliharaan dan pemotongan pohon secara rutin di beberapa jalan utama seperti Jln. Amir Machmud, Jln. Sriwijaya, dan Jln. Baros.

"Kami secara rutin melakukan pemotongan dahan pohon pada malam hari di sejumlah jalan protokol. Karena jika siang hari takutnya mengganggu lalu lintas. Jadwal pemeliharaan pohon dilakukan empat kali dalam seminggu. Pemeliharaan tidak hanya di musim hujan saja," ujar Kepala Seksi Pertamanan dan Pemakaman Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Cimahi, Zahra B.M. Assagaf di kantor Pemkot Cimahi, Jln. Rd. Demang Hardjakusumah, Selasa (8/11).

Dikatakan Zahra, dengan pemangkasan secara rutin, risiko terjadinya dahan yang patah dan pohon tumbang semakin kecil. Selain pemeliharaan rutin di jalan protokol, pihaknya pun menerima permintaan dari RT dan RW, jika di daerahnya terdapat dahan pohon yang terancam patah dan tumbang.

"Untuk permintaan pemangkasan dahan pohon dapat kami penuhi dengan segera. Tetapi jika ada permintaan untuk penebangan pohon, maka harus melalui prosedur, salah satunya izin dari wali kota. Karena kami tidak bisa sembarangan melakukan penebangan pohon. Untuk pemeliharaan yang dapat dilakukan hanya penebangan dahannya saja," jelas Zahra.

Zahra menyebutkan, dari 5.775 pohon besar itu, dalam sehari rata-rata ada 2-3 pohon yang dipangkas. Pemangkasan pun hanya dilakukan untuk pohon yang sudah sangat rindang. Jenis pohon tersebut di antaranya mahoni, angsana dan beringin.

Zahra tidak memungkiri, dari populasi pohon yang ada di Cimahi, tidak sedikit yang berusia tua, seperti yang terdapat di Jln. Gatot Soebroto. Kendati berada di kompleks militer, katanya, pemangkasan pohon tetap dilakukan oleh petugas dari DKP.

Untuk pohon yang berusia tua, Zahra mengatakan, tanda-tanda potensi tumbang, salah satu ciri fisiknya adalah sudah mati. "Jika pohonnya sudah mati, kami bisa menebangnya dengan meninggalkan sebagian batangnya. Di batang yang tersisa itu digantung tanaman di dalam pot, sehingga akan tetap terlihat cantik dan menyegarkan lingkungannya. Tetapi, jika pohonnya masih hidup, tetap harus mengikuti prosedur pemotongan," ujarnya.

Mengenai ancaman pohon tumbang di musim penghujan ini, Zahra mengatakan, meski potensinya ada, sejauh ini belum ada kasus pohon tumbang di Cimahi. (B.109)**
Share:

Terjadi 400 Kasus DBD di Cimahi per Oktober 2011

Per Oktober tahun ini, jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Cimahi yang dilaporkan sebanyak 400 kasus dengan dua di antaranya meninggal dunia, jauh menurun dari jumlah kasus tahun lalu yang mencapai 1.807 kasus dengan 9 di antaranya meninggal. Meski demikian, Pemkot dan warga diimbau sejak sekarang mewaspadai siklus lima tahunan serangan DBD pada awal 2012 mendatang.

Kepala Seksi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Cimahi Rina Kuswidiati, ditemui Rabu (9/11), mengungkapkan, puncak serangan DBD di Kota Cimahi terjadi pada 2007 lalu dengan jumlah kasus terlapor mencapai 2.374 kasus. Ketika itu, ditetapkan status KLB (Kejadian Luar Biasa). Kasus terbanyak terjadi pada Januari 2007, yakni 191 kasus dengan satu orang meninggal dunia.

“Ada siklus lima tahunan DBD yang harus diwaspadai semua pihak. Artinya, pada awal 2012 nantilah dimulai siklus itu. Karena itu, sejak sekarang, kita tidak boleh terlena dengan fakta menurunnya jumlah kasus DBD pda tahun ini. Justru biasanya ketika kasus sedikit seperti beberapa bulan terakhir, ada peluang bakal terjadi lonjakan di
kemudian hari,” kata Rina.

Menurut Rina, penurunan jumlah kasus DBD pada tahun ini lebih banyak disebabkan oleh perubahan iklim. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kecenderungan menurunnya jumlah kasus hampir di semua daerah di Indonesia. “Meski demikian, peran warga juga besar. Kebiasaan membasmi sarang nyamuk secara rutin terbukti efektif,” ujarnya. (A-165/das)***
Share:

Massa Jebol Pagar Kantor Pemkot Cimahi

Setelah negosiasi dengan pihak Pemkot tidak membuahkan hasil, para buruh yang melakukan aksi di Kantor Pemkot Cimahi kemudian menggelar aksi duduk di depan pintu gerbang Kantor Pemkot Cimahi, Selasa (8/11).

Meski hujan lebat mengguyur, ratusan buruh tetap memilih bertahan di kantor Pemko Cimahi dan terus meneriakkan yel-yel naikkan UMK. Namun saat hari beranjak sore, buruh berusaha merangsek masuk ke dalam kantor pemkot, puluhan buruh di antaranya berusaha menjebol pintu gerbang kantor Pemkot. Usaha ini sempat mendapat perlawanan dan penjagaan dari aparat Satpol PP yang terus bersiaga di depan gerbang itu.

Tidak lama kemudian, sekitar pukul 16.10, massa yang berusaha menjebol pagar bertambah banyak. Akhirnya pintu gerbang pun berhasil dijebol. "Pada saat pintu gerbang jebol itulah, beberapa buruh dan aparat Satpol PP "buk bek", namun hanya sebentar karena masing-masing pihak mampu menahan diri," ungkap Ketua DPC SPN, Dadan.

Hingga menjelang magrib, puluhan buruh terlihat masih bertahan di Kantor Pemkot Cimahi. Dadan menegaskan, pihaknya akan terus bertahan di Kantor Pemkot Cimahi. (set)
Share:

Ribuan Buruh Cimahi Kembali Unjuk Rasa

Ribuan buruh Kota Cimahi kembali berunjuk rasa mendesak Wali Kota Itoc Tochija menaikkan besaran Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK) 2012 yang direkomendasikan ke Gubernur, yakni sebesar Rp 1.209.442, atau 100 persen dari Kebutuhan Hidup Layak (KHL), Selasa (8/11). Pemkot tidak berani menjanjikan apapun karena rekomendasi tersebut telah disampaikan ke Gubernur dan tidak diketahui apakah masih dimungkinkan penggantian angka.

Datang menggunakan ratusan sepeda motor, buruh berorasi di depan gerbang Pemkot Kota Cimahi dan menolak pulang sebelum ada jaminan kenaikan besaran UMK 2012. Gerbang yang diblokade tersebut merupakan akses satu-satunya bagi kendaraan menuju dan keluar kompleks pemkot. Unjuk rasa itu merupakan yang kedua kalinya setelah pada Jumat (4/11) lalu mereka mengepung kompleks pemkot setelah berjalan kaki
sejauh 3 kilometer dari kawasan industri Cibaligo.

“Kami menuntut kehendak baik Pemkot Cimahi, terutama wali kota. Jangan jadikan besaran KHL sebagai patokan mati penetapan UMK. Beberapa daerah lain bisa menetapkan UMK lebih dari 100 persen KHL. Itu tergantung kehendak baik Pemkot-nya,” kata Rosyad, salah seorang perwakilan buruh dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kota Cimahi, saat diterima beraudiensi oleh Wakil Wali Kota Eddy Rachmat.

Rosyad membandingkan apa yang terjadi di Kota Cimahi dengan daerah lain di Bandung Raya. Di Kabupaten Bandung danKabupaten Sumedang, besaran rekomendasi UMK 2010 diusulkan lebih dari 100 persen dari KHL. “UMK Kota Cimahi yang biasanya ada di peringkat kedua di bawah Kota Bandung, kini akan ada di posisi paling bawah. Bagaimana hal ini bisa diterima?” tuturnya.

Ketua Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kota Cimahi Dadan Sudiana menambahkan, karena tidak ada jawaban memuaskan dari pemkot, buruh tidak akan menghentikan unjuk rasa. “Kami akan menginap di sini sampai wali kota berani melakukan perubahan, sama seperti di daerah tetangga,” ujarnya.

Eddy mengungkapkan, dirinya tidak bisa menjanjikan sesuatu kepada para buruh terkait tuntutan kenaikan rekomendasi besaran UMK 2012. Pasalnya, rekomendasi telah disampaikan ke gubernur sebesar 100 persen KHL, yakni Rp 1.209.422. “Kami akan kaji lagi kemungkinan revisi itu. Yang pasti, semua masukan hasil pertemuan ini akan disampaikan ke wali kota. Beliau yang nantinya memutuskan,” katanya.

Ketua Dewan Pengupahan Kota Cimahi yang juga Asisten Pemerintahan Suryadi kembali menyodorkan keyakinannya bahwa semua tahapan penetapan KHL dan juga UMK sudah dilakukan sesuai prosedur. “Angka yang sekarang direkomendasikan ini tidak muncul tiba-tiba. Semua ditetapkan melalui tahapan yang juga melibatkan perwakilan buruh,” ucapnya. (A-165/A-89)***
Share: