Home » » Cimahi Mendukung Pengembangan Tenaga Mikrohidro

Cimahi Mendukung Pengembangan Tenaga Mikrohidro

Written By admin on Rabu, 30 November 2011 | 05.45

Turbin penghasil energi untuk mengoperasikan mesin pengiris jahe dan pipa pengasapan merupakan bagian dari Sarana Percontohan dan Laboratorium Pengujian Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang dibangun CV Cihanjuang Inti Teknik (CIT). Kestabilan arus air sebagai penggerak diperoleh dengan memanfaatkan saluran irigasi Leuwileuweung yang 3 meter lebih tinggi dari Sungai Cimahi. Selain turbin propeler berkekuatan 600 Watt, di laboratoriom ini juga terdapat turbin turbo propeler berkekuatan 1.500 Watt serta sebuah turbin jenis crossflow.

Ratusan kilogram jahe yang diolah dengan memanfaatkan PLTMH ini merupakan bahan pokok pembuatan berbagai jenis minuman tradisional kemasan yang diproduksi lini usaha CV CIT. Menggunakan merk dagang "Hanjuang", produk-produk lini usaha ini, seperti bandrek dan bajigur, telah menembus pasar-pasar modern dan merambah ke banyak pulau di Indonesia. "Lewat lini usaha ini, kami ingin memberi contoh pemanfaatan ideal PLTMH, yakni sebagai sumber kegiatan produktif. Penggunaan tenaga mikrohidro sebaiknya tidak hanya berkutat pada persoalan mendasar penerangan," kata Humas CV CIT, Sutarya.

Ironisnya, fungsi ideal itu belum banyak tergarap hingga hari ini. CV CIT sendiri setiap tahunnya rata-rata memproduksi 50 buah turbin dan hampir semuanya dikirim ke wilayah-wilayah terpencil yang belum terlayani listrik oleh PLN. Belum banyak turbin yang berputar di perkotaan. "Harus diakui, teknologi mikrohidro masih identik dengan pemenuhan kebutuhan dasar wilayah-wilayah tertinggal, terutama di luar Jawa," ucap Sutarya.

Selain beberapa bengkel pembuat turbin, per 22 November Kota Cimahi memiliki satu lagi fasilitas ke-mikrohidro-an yang bahkan bertarf internasional, yakni ASEAN Hydro Competence Centre (Hycom) di TEDC (Technical Education Development Centre), DI Jalan Pasantren. Memiliki laboratorium berisi empat model turbin yang didatangkan dari Swiss, Hycom terutama digunakan untuk melakukan pelatihan, mulai dari pengenalan dasar hingga teknik praktis pembuatan turbin. "Sasarannya mulai dari guru, dosen, hingga para pembuat kebijakan. Pemanfaatan potensi mikrohidro bukan melulu urusan teknologi. Ini juga soal cara berpikir," ucap Iman Permana, Ketua Pokja Pengembangan Energi Terbarukan TEDC.

Iman meyakini, meskipun relatif sulit, PLTMH tak hanya bisa diterapkan di wilayah pelosok, tapi juga di perkotaan padat seperti Kota Cimahi dan Kota Bandung. Belasan anak Sungai Citarum yang membelah kedua kota tersebut merupakan potensi yang besar. "Teknologi ini sekaligus bisa menjadi wahana edukasi warga bantaran sungai. Dengan imbalan energi yang digunakan untuk aktivitas produktif, mereka niscaya bakal lebih serius menjaga kebersihan dan kelestarian sungai," tuturnya.

Wali Kota Itoc Tochija sepenuhnya mendukung pengembangan potensi tenaga mikrohidro. Ia menilai pemanfaatan sumber energi terbarukan sudah sangat mendesak dilakukan. "Kehadiran Hycom semoga menjadikan Kota Cimahi sebagai pusat riset mikrohidro hingga level Asia Tenggara. Upaya pengembangan teknologi ini mesti disokong dengan sungguh-sungguh. Pemkot sepenuhnya mendukung," ujarnya.